kecuali bara jantungmu : Jelita Suntik

kecuali bara jantungmu
: Jelita Suntik

Lalu dimana lagi aku bisa meledak-ledak selain di bingkaimatamu, sayang?. Seserpih awan itu adalah suaraku yang memanggilmu. Memintamu menari-nari, mengiringi irama deting genting dan rintik bising di dadaku.

Saat ini aku hendak menelanjangi segala jarak. Memangkas segala isak. Walaupun pada akhirnya aku tahu, kita akan sama-sama melebur di karat gigil yang keramat. Kemudian takkan kutemukan lagi tempat untuk berhangat ria kecuali pada bara jantungmu.

[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 12 Mei 2011]

Category: 0 comments

penyendirian

penyendirian

aku tak perlu siapasiapa
untuk menulis puisi
tidak juga kau!

aku sepasang mata
yang tak kemanamana
kecuali melajur lesung pipi imaji

jemari sekehendak sendiri
mereka bukan remote
yang patut jadi kendali
cukup. kita hanya fungsi
fungsi yang terusmenerus berlari
yang berapi mengenali panas
yang mendingin air menamai es
yang mengkristalkan asin dalam garam

fungi adalah sebagian bayi
yang lahir di atas lebam lembab
lembah dadaku ini

aku mengerti kita hanya serangkai
nadi. setiap kali kau bernapas
aku ingin menghantar darah
ke rumah jantungmu

[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 5 mei 2011]

Category: 0 comments

demimu, aku tulis puisi kita

demimu, aku tulis puisi kita

demi mengulang percakapan kita
demi mendulang senyum
tangis dan tawa bersama
aku ingin menulis puisi
lebih lama lagi
lebih sabar menanti
kepulanganmu

[copyright by Jiwang Muhtadin, Jakarta, 5 mei 2011]

Category: , 0 comments

Mimpi

Mimpi

aku lari pagi
di taman tanpa
polusi
di tengah kota
yang keranjingan
akan industrialisasi

[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 5 Mei 2011]