MASA
SERIBU. dan seribu hari lagi kita sama di titik simpang. Aku siur, sedang kau menyadur waktu yang agak linglung. saatnya nanti entah kau, aku atau mimpi yang renta lebih dulu.
ALMENAK. Setiap angka menemui runtuhnya. Aku menyebutnya pergantian hari yang basi. Tak ada magicom untuk hari kemarin, bukan?.
ANTARA BULAN dan MATAHARI. Dalam sangsi pertanyaan, aku membayang kau sebagai jawaban.
BILA NANTI. Aku tak menghitung lamanya, aku hanya menimbang bagian akhirnya.
POROS. Garis edarku menyesuaikan rumahmu.
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 10.11.2011]
By jiwang muhtadin
Category:
minimini FB,
puisi mini,
puisiku
0
comments
By jiwang muhtadin
Beberapa fiksimini JM dengan beragam tema. #sedangbelajar. :)
1. Cenayang/Paranormal.
MENGENANG. "Di kemudian hari saya akan bekerja sebagai apa, Mbah?" | "PARANORMAL". Ia teringat obrolan dengan gurunya, 15 tahun yang lalu.
AJI MUMPUNG. "Kalau kau mau, kuberi kau ajian yang bisa memudahkanmu mendapakan pekerjaan. Dengan syarat, kau harus nge-kost di tempatku".
DI SEBUAH SURAU Paranormal di kampungku bertobat. Semua mantan pasienya ketiban sial.
PARANORMAL?. "benarkah ajian pemikatnya ampuh?. kog si mbah masih melajang?" | "barang dagangan tidak untuk dikonsumsi sendiri, bos!".
CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI. Sekarang, keduanya sudah sama-sama jadi paranormal. Merasa sejalan lagi, akhirnya mereka menikah.
KESURUPAN MASAL di SEKOLAH. Paranormal dipanggil. "Beres, permintaan mereka cuma satu, Pak Kepala Sekolah. Segera turunkan biaya SPP".
USAHA SEORANG PARANORMAL. Agar tempat prakteknya ramai, paranormal itu pasang susuk penglarisnya sendiri.
CURHATAN ARWAH CEMBURU. "Suamiku kawin lagi. Aku kesepian. Nikahkan aku dengan jin piaraanmu saja, mbah dukun!"
"Oke, Jeng!, siap!"
[Jakarta, 26 Oktober 2011]
MALAM JUMAT KLIWONAN. Ia berkencan dengan mendiang istrinya di taman makam.
[Jakarta, 25 Oktober 2011]
2. Mucikari.
MUCIKARI ABAL. Di rumah bordirnya ternyata hanya menyewakan boneka seks, bukan pelacur.
CURHAT MUCIKARI. Kau harus cepat belajar menjadi aku, gadisku. Tidak enak lama-lama melacur. Aku sudah pernah merasakannya.
MUCIKARI LESBIAN. Dengarkan aku baik-baik, sayang!. Aku rela berbagi tubuhmu dengan mereka. Tapi tidak untuk hatimu.
PEKERJAAN KELUARGA. Selesai aku dilantik, tujuh generasi, lengkap sudah. Sekarang, semua anggota keluarga resmi bekerja sebagai mucikari.
SETELAH TAHU aku barter keperawanan adikku dengan rumah yang sekarang kami tempati, mama mengutukku lalu bunuh diri.
MUCIKARI. Menunggu panggilan. Ibuku sedang melobi pelanggan untukku.
[Jakarta, 25 Oktober 2011]
3. Novelis.
TIGA KAWANNYA dilaporkan menghilang. Tersesat di dalam naskah ceritanya.
[Jakarta, 31 Oktober 2011]
SELALU ADA JALAN tak diduga-duga di novelnya. Termasuk menembus lorong waktu dan alam lain.
ALUR CERITANYA sering macet, senasib dengan penulisnya yang sering terjebak kemacetan di Jakarta.
IA DITUNTUT oleh tokoh utama di dalam novelnya sendiri, dengan tuduhan pembunuhan berencana.
NOVELIS BUKAN PEMBICARA. Gaya berbicaranya ternyata tak sepandai seperti di dalam novel-novelnya.
MENCARI TOKOH PENGGANTI. Mulai benci dengan tokoh utama yang kerap minta cuti di saat terjadi konflik, dia pun segera mencari tokoh pengganti untuk novelnya.
PANIK. Tokoh-tokoh di novel-novelku sebelumnya unjuk rasa, "kenapa tak kau ikut sertakan kami pada novel barumu yang best seller itu?"
NASIBNYA BERAKHIR di sel tahanan. Tulisan-tulisannya dianggap mengganggu stabilitas keamanan pemerintah.
TAK :LAGI KHAWATIR naskahnya ditolak penerbit, kini dia sudah bisa menerbitkan novel-novelnya secara indie.
[Jakarta, 1 Nopember 2011]
4. Pendaki Gunung.
TAKUT KETINGGIAN. Bisa naik, tidak bisa turun.
SESAMPAINYA di PUNCAK Mount Everest, masih kuingat jelas kata-kata terakhirnya, "Tuhan, Kau ada di sebelah mana?"
PARA BIDAN yang dibawanya hanya bisa melihat pasrah. Anak gunung lahir dengan selamat, sedang induknya tidak.
[Jakarta, 1 Nopember 2011]
5. Perias Mayat.
BINGUNG. Orderan merias mayat banci. Dia jadi bingung kliennya harus dirias sebagai pria atau wanita.
DENGAN LIRIH dia berdoa. "Kumohon cabut nyawa seseorang untuk kurias jasadnya supaya keluargaku bisa makan hari ini, Tuhan".
SEWAKTU KUSISIR rambut klienku, aku kaget, ada paku menancap di kepalanya.
[Jakarta, 2 Nopember 2011]
6. Koki
HANYA KARENA DIA ISTRIKU. Aku terpaksa mengatakannya enak, meski masakan yang dimasaknya selalu berlebihan garam.
SAAT JEBAKAN TIKUS di dapurnya berhasil, dia bersorak girang, "Sekarang, waktunya memasak!".
MENDIANG ISTRI. Setiap pagi di meja makanku masih saja tersedia sarapan untukku. Padahal istriku telah wafat dua minggu yang lalu.
[Jakarta, 2 Nopember 2011]
7. Wartawan.
TAK ADA JEDA Walau sedang berduka ia harus tetap melaporkan berita tentang korban kebakaran malam ini. Tak luput disebutnya nama istri dan kedua anaknya.
KEPIAWAIANNYA melaporkan berita ternyata sia-sia. Juru kamera lupa mengisi kaset rekaman di kameranya.
[Jakarta, 3 Nopember 2011]
8. Sutradara.
KARENA TERLALU SIBUK mengurusi proyek film, akhirnya rumah tangga sang sutradara jadi bahan tulisan sekenario.
[Jakarta, 3 Nopember 2011]
9. Guru TK.
TAK SEMPAT MASUK TK waktu kecil dulu, ia kini bertekad jadi guru TK demi merasakan suasana masa kanak-kanak.
[Jakarta, 4 Nopember 2011]
10. Pematung.
DIPIKIRNYA sudah terlalu usang dan tak berseni lagi, dia berniat mengganti ikon patung Pancoran dengan patung Benyamin Sueb, buah karyanya.
AKU SEDIKIT WASWAS bila sedang berkunjung ke rumahnya. Aku merasa patung-patung di sana seperti hidup dan mengintai tamunya setiap saat.
DWIFUNGSI. Selain nilai estetika sebagai seni, patung-patung lilinnya telah diberi sumbu sebagai persiapan kalau nanti mati lampu.
[Jakarta, 5 Nopember 2011]
11. Paparazi.
SETELAH MENGAMBIL gambar artis diam-diam, ia sibuk rapat negosiasi harga dengan pihak media untuk foto-fotonya tersebut.
NYAWA PAPARAZI. "Akhirnya selesai, nyawaku sudah kupindahkan ke PC", ucapnya puas setelah mengkopi foto-foto dari kamera digitalnya.
MEMILIH. "Uang atau aibmu kupublikasikan?", lewat telepon diberinya artis itu pilihan.
Di RUMAH PAPARAZI. Kamera tersembunyi terpasang di setiap sudut ruangan. Termasuk toilet.
[Jakarta, 7 Nopember 2011]
12. Sniper.
MELAPOR. "Tuhan, maaf aku kalah cepat dengan sniper itu", lapor malaikat maut setelah gagal melakukan tugasnya.
[Jakarta, 8 Nopember 2011]
13. Pramusaji.
KETERAMPILAN TAMBAHAN. Keterampilannya bertambah, membaca gerak bibir. Itu rutin diasahnya setiap membawakan pesanan ikan hidup pada pelanggannya.
[Jakarta, 8 Nopember 2011]
14. Stuntman.
SATU KALI untuk seumur hidup ia tanggung akibatnya. Menggantikan peran bercinta dengan ODHA.
[Jakarta, 9 Nopember 2011]
15. Penyiar TV.
MEMORIAM. Bahasanya selalu diatur-atur. "Ah!, aku merasa lebih nyaman jadi penyiar radio. Bebas, sesuka bahasaku", kenangnya waktu jeda iklan.
FASILITAS. Dibelakang layar, tersedia fasilitas tukang pijat untuknya.
[Jakarta, 10 Nopember 2011]
16. Pahlawan.
TAK ADA pahlawan yang berjuang seikhlas ibu.
PEPATAH: Tak ada yang kuperjuangkan, kecuali yang kuanggap adalah suatu kebenaran.
UNTUK DIRINYA SENDIRI. Dia berjuang keras untuk bertahan hidup, melawan kanker darahnya.
[Jakarta, 10 Nopember 2011]
17. Pelaut.
EVOLUSI. Bertahun-tahun melaut, tumbuh insang di bagian daun telinganya.
[Jakarta, 11 Nopember 2011]
18. Kolektor Benda Seni.
PENCURIAN BENDA SENI BERSEJARAH di MUSEUM. Generasi satu abad mendatang belajar sejarah negerinya di tanah asing.
[Jakarta, 12 Nopember 2011]
19. Penjaga Makam.
SATU TEMPAT. Sudah terbiasa dengan lingkungan kerjanya, kini hidup atau mati tak ada beda baginya.
NASIB. Bulan memancar, adrenalin bersuar. Makin malam hatinya makin gusar. Entah kapan keluarganya tidur tidak dalam keadaan lapar.
[Jakarta, 15 Nopember 2011]
Category:
fiksimini,
minimini FB
0
comments
By jiwang muhtadin
hujan sore ini
hujan deras sore ini
seperti luruh rindu
yang kuhimpun dari terik hari
satupersatu
sejak semula mata kita meneruskan
jarak tanpa arah
tanpa kau-aku mengenal "sudah"
kemudian tak lagi kuhitung apa yang
tak perlu diperhitungkan
seperti halnya wajahmu
yang menjadi langit tak terukur
di jantungku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Depok, 21 Oktober 2011]
Category:
puisiku,
rindu
0
comments

