Catatan Kecil di Simpang Jalan, 2
Kau adalah puisi yang terpampang pada marka. Mengarahkan langkahku ke lumbung paling limbung. Dan jarum di dalam jerami segala kemungkinan adalah petunjuk jalan yang tak pernah berujung pada rumahmu.
Tak mudah bagiku menerjemahkan rambu-rambu darimu. Selalu tumbuh kata keliru. Berkembang menjadi bimbang. Kemudian gugur di kaburnya bayang-bayang.
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 23 Juni 2011]
By jiwang muhtadin
Category:
puisiku
0
comments
Location:
Pasar Minggu, Jakarta, Indonesia
By jiwang muhtadin
catatan kecil di simpang jalan
kau melintas pada mataku
meski tanpa wajah
sebelum akhirnya
ramai orang-orang
menancapkan nisan
di dahiku
kemudian
hilang
pada iringan bising
klakson
dan hembusan
angin sore ini
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 31 Mei 2011]
kau melintas pada mataku
meski tanpa wajah
sebelum akhirnya
ramai orang-orang
menancapkan nisan
di dahiku
kemudian
hilang
pada iringan bising
klakson
dan hembusan
angin sore ini
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 31 Mei 2011]
Category:
puisiku
0
comments
By jiwang muhtadin
di bagian pundakku, masih ada atasmu
ah! aku bahkan masih kembali
dan akan kembali lagi
ke simpang jalan yang pernah kita lalui
setiap hari, aku tunggu kau di sana
tapi kau tak ada
pikirku, mungkin kau tersesat di tikungan lain
atau kau telah amnesia pada marka
yang waktu lalu kita buat bersama
entahlah, aku enggan menerkanya
atau tanpa sadar bisa saja
cermin-cermin di punggung kita
sama-sama retak
mengurai segala detak
menepis jauh jarak
sampai-sampai aku tak peduli lagi
pada sayat-sayat seserpih awan
yang membasahi tubuhku
atas bayang-bayang dirimu
kau tahu, sekalipun padaku
ada banyak hal yang rampung tentangmu
tetap akan selalu ada
tempat di bagian pundakku
bila kau butuhkan sandaran
seperti halnya dulu
kau pernah mendikte air mata,
kekesalan, dan canda tawa
bahagiamu
kepadaku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 28 Mei 2011]
ah! aku bahkan masih kembali
dan akan kembali lagi
ke simpang jalan yang pernah kita lalui
setiap hari, aku tunggu kau di sana
tapi kau tak ada
pikirku, mungkin kau tersesat di tikungan lain
atau kau telah amnesia pada marka
yang waktu lalu kita buat bersama
entahlah, aku enggan menerkanya
atau tanpa sadar bisa saja
cermin-cermin di punggung kita
sama-sama retak
mengurai segala detak
menepis jauh jarak
sampai-sampai aku tak peduli lagi
pada sayat-sayat seserpih awan
yang membasahi tubuhku
atas bayang-bayang dirimu
kau tahu, sekalipun padaku
ada banyak hal yang rampung tentangmu
tetap akan selalu ada
tempat di bagian pundakku
bila kau butuhkan sandaran
seperti halnya dulu
kau pernah mendikte air mata,
kekesalan, dan canda tawa
bahagiamu
kepadaku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 28 Mei 2011]
Category:
puisiku
0
comments

