Bukan Aku
Bukanlah aku jika itu adalah kau
Yang biasa kupandang dalam hutan bakau
Maka maafkanlah aku apabila
Sajakku belum juga mampu membuat namamu berkilau
Dan menghapus segala galau
Kini kau telah disisir ribuan kubik air
Entah tinggal berapa batang yang masih tegak sempurna
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 1 Nopember 2010]
meritmekan rindu
aku tak pernah menyangka
semua aksara kan berubah menjadi kabar berita
tapi entah kenapa ada rasa kecewa di dalam dada
karena banyaknya tanda tanya rahasia
mengapa tak ada paragraf tentangmu di sana?
pada kalimat yang tergurat di dinding kertas buram itu
harus kucari di halaman ke berapa
agar aku bisa membaca senyum manismu
aku di sini
akan terus meritmekan rindu
untuk bertemu denganmu
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 20 Desember 2010]
di tanah makam
di bawah nisan
kata-kata menggelepar kesepian
ranting-ranting berserakan
tak karu-karuan
dedaun mengadu tangis
kepada riuh angin
di ujung sana
di balik pagar
terhenyak mendengarkan
isak yang menyesakkan
ingin berteriak tapi tak kuasa
sedikit menjerit pahit pada langit
tetap tak bisa menyembuhkan rasa sakit
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 1/1/2011]
tak perlu terdengar
tak perlu terdengar
samar-samar pun buyar
terbakar
lalu pudar
tak usah ada riak air mata
sendiri
aku belatung yang tlah mati
tanpa sempat menjelma
lalat dewasa
mungkin dengan itu kau tak perlu membeciku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 2 Januari 2011]
kemudian...
dewa-dewa berhenti menggumam
pada malam
karena bait-bait yang kau runtunkan
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 2010]
kepada (sajak) yang tak kunjung datang
entah kesekian kalinya
rona-rona luntur di angkasa
entah kesekian kalinya pula
aku menjelmakan senja di sana
menanti di sekarat nadi
mungkin esok hari
kau tengok aku, saat bendera kuning
mulai bergeming tertiup angin di samping
tiang petang
dan saat itu
waktu adalah namaku tanpamu
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 28 Desember 2010]
ironis
Desember-Januari peralihan tahun baru
tapi sisa-sisa ampas kota masih sama
debu-asap-sampah malah tambah meraksasa
gedung-gedung pongah mencibir angkuh
pada tempat-tempat kumuh
dimana peluh bersimbah di tubuh jelata
begitulah Januari di kotaku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 1 Januari 2011]
1.
PEMILU | di negaraku, tiap lima tahun berlalu sebentar basa-basi mereka pada massa telah berhasil merealisasikan swasembada mataair air mata.
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 9/1/2011]
2.
ziarah
menadikan batu bata pusara
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 9/1/2011]
3.
introspeksi diri
di "kubur batu", kaku untuk waktu tak tentu
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 8/1/2011]
4.
Program KB GAGAL | program KB knalpot GAGAL, lantaran bensin semakin rajin bersenggama dengan mesin.
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 5/1/2010]
5.
bertanya
aku, setengah yang kau rasa
kau, setengah yang ku rasa?
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 5/1/2011]
6.
ketika koruptor bertaubat | saat itu, uang rakyat sudah lenyap tanpa gumpal asap di akhirat.
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 27/12/2010]
7.
SUDAH. Setelah ini, kuraih urat nadiku sebagai temali yang kujadikan kalung di lehermu dengan matahari sebagai mutiaranya.
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 11 Maret 2011 : 11.20]
8.
KANGEN. menikahi sepi dengan mas kawin namamu.
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 10 Pebruari 2011]
9.
di batas gerimis
- kran langit terbuka
atau para dewa sedang berduka?
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 16 Januari 2011)
10.
24.00
bila telah terpotong urat nadi rembulan
akankah matahari bergentayangan saat malam?
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 10 Januari 2011)
Merah Putih
Karena merah
Menggenapkan putih bernyawa
Maka, terciptalah putih
Menjadikan merah berarti
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 10 Desember 2010]
Tak Mungkin
Tak mungkin kau dapatkan
Bila menagih manis senyuman
Pada raut kebencian
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 6 Desember 2010]
Hanya Ingin Berterimaksih
aku terdiam lantas berpikir
dalam otakku bagaimana jika pikiranku
ku tangkap dan kuhadiahkan untukmu
kau mau?
bukan...
bukan sesuatu yang istimewa
hanya rasa terimakasihku yang sederhana
cukup. cuma itu
meskipun kau tak tahu
seberapa berharganya dirimu untukku
terutama guru-guruku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 22 Nopember 2010]
: kepada langit
(seraya kau katakan
- aku buta warna)
biarlah abu itu menjadi
abu-abu
dan batu-batu membatu
di sini aku pernah mabuk waktu
sebelum kuningmu
adalah ragi bagi arakku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 7 Pebruari 2011]
Kisah Klasik Anak Jalanan di Lampu Merah
Tiga lampu berderet di tiang perempatan
Hanya satu yang selalu ku cinta yaitu merah
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 29 Desember 2010]
Ada yang Hilang daripadaku
: SW
1/
ada yang hilang daripadaku
yaitu tawamu yang tak lagi meratui
deru angin di puncak telingaku
ada yang hilang daripadaku
yaitu ketika semesta
berhenti meramu senyummu
tersebab awan menjenggelkan itu
menutup rapat hangat mentari padamu
ya, dimana sesuatu
yang hilang itu?
2/
menelusuri hening
aku berjinjing
dari rebah sarafku
bayanganku berjalan
perlahan
tertunduk
mengingat-ingat
jejak yang tanggal
oleh kemarau yang mengerang
angin gersang di telapak kaki
atau guyur serpihan awan
memecah langkah
menjadi teramat lebar dan
haus akan keterasingan siang
horison membentang
kosong mengambang
begitu gamang
begitu tak berbilang
pada siapa aku terpulang?
kapan kau akan kembali datang?
3/
ada yang hilang daripadaku
yaitu ketika malam
bulan hanya bermain catur
dengan bintang
sedang aku tengah
sibuk meracik bimbang
malam ini entah malam keberapa
napasku luruh bersama gemuruh
jangkrik-jangkrik yang menertawai kemenangan bulan
atau menangisi kekalahan bintang
rasa-rasanya aku berniat memamah
apa yang tersisa dari celotehan senja kita
kemudian
ada yang benar-benar hilang daripadaku
yaitu dirimu
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 8 April 2011]
Ode bagi Jahe
yang di segelas ini, beruap
hangat
mencari-cari arah pada
dadaku yang sesak
dan perutku yang mual
mengangin dekap
melarut ia
di lambung serta
sekujur tubuh
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 25 Pebruari 2011]
adakah yang lebih teduh
dari tubuh tata sapamu?
hujan di perjalanan, antara
jalan dan pepohonan membaca
desah napas kita dalam rintik berjatuhan
mengucuri basah bahasa kencan
adakah yang lebih rindang
dari dekapan kasih sayang?
siang menyapa dedaunmu
di helai kuyup pakaianku
dan atap dimana kita memayung harapan
pada derasnya hujan
semua itu sebenarnya sebuah kesialan
atau memang sudah kehendak Tuhan?
adakah yang lebih merindu
dari keterbatasan sendu?
genangan-genangan rindu
berdecak-decak di kalbu
mengiringi detak jam dinding
yang ku tatap begitu dingin
seolah tak peduli
jarum-jarum itu enggan berhenti
sejenak saja, menemani sedih
biar rintih-rintih pedih itu mati
berbisik kepada langit-langit
inilah batas atap yang malamnya
menjadi amat keramat
setiap hening melumat-lumat
jantungku kuat-kuat
ketika wajahmu sudah tak beralamat
pada kedua bibirhati getir ini
siang pada keterbatasan hujan
adakah sesuatu tentangku kau kenang?
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 20 Pebruari 2011]
tiba-tiba ada tanya tanpa tanda
tanpa aba-aba di kepala
tanpa suara menyapa daun telinga
tanpa kata-kata yang biasa
kau titipkan pada mata
hey dimanakah gerangan dirimu?
ketika kubuka halaman peranggas jarak
mataku tak mendengar wajahmu
siulanmu lenyap sekejap
dari tatap eja jemariku
aku mencari dimana sisa celotehan
yang kemarin kita bawa ke meja dunia
yang sekumpulan canda itu membara tawa
tak ada!
sebenarnya dadaku bergetar
aku gusar karena tak mengerti
hendak kemana kau pendar
segala binar yang sebelumnya
kau hingarkan dalam hangatnya persahabatan
Oh kawan!
kau meremah pulang
tanpa satu memo kau tinggalkan
untuk satu kalimat perpisahan kepadaku
sekalipun memang tak pernah ada perjumpaan
diantara kita senyata apa yang kau pandang
dihadapanmu sekarang
semua bermula tanpa tujuan
semua berakhir tanpa kepastian
akhirnya buku harian pun kini
hanya membayi bayang-bayang ilusi
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 6 Maret 2011]
: kepada Ibuku, Rusdiana Hormansyah
bukankah angkasa tak kita
tahu batas ujungnya di atas sana?
planet-planet, bulan, bintang, komet-komet
dan segala orbit hanyalah sebuah pamflet
di sederet siluet
(jika masa menyajakkan samudra
aku kira,
tak perlu ada tanda diantara kita, bu
sebab tanda hanyalah sebuah penanda
bukan sesuatu yang berharaga tanpa mengingatnya
tanpa kau dan aku di sana
-- cukuplah namamu dan namaku saja yang menjelajah
mengkoordinat arah bernama sejarah
di layar lazuardi
yang membayi puisi
atau setidaknya dekmu lah tempatku mengadu
hanya itu yang kutahu, bu)
bukan malam atau siang
yang meramal cuaca kita
tetang segala tanda memakna sebuah nama
tetang sesiapa menanam bunga pada semesta
tetang semua kenangan menyisihkan sebuah terang
biarlah api itu padam
kupaslah segala buram
bahkan, murammu sudah berpenghangat malam, kan?
sekarang, hapuslah resapan pahit catatan
hapuslah, hapuslah,
hapus cerita kelam
dengan hapusan narasi yang sedang berjalan
tak usah kau tunggu kematian
sebab nanti ia bisa mengaramkanmu di lautan
kecuali menyisakan namamu yang tertera di karang
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 12 Pebruari 2011]
: Cerita tentang Hujan
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 24 Pebruari.2011 : 17.15]
: di jantungmu, Emi
1/
adalah rindu pusara dan angkuhnya usia
adalah remah masa petang menjelma malam
(bukankah kemarin serdadu hening tersadur
pada rotasi jam dinding?)
kemudian
kemudian kamu berdiri kembali
seusai malam meminta
tambahan waktu
seraya semedi bulan memadu
gulita
di antara batas itu
ujung-ujung gelisah
tak menentu
tepi-tepi membaca
seserpih bisu
2/
adalah tingkat sajak terikat galau
adalah kilat menggeliat silau
(bukankah sekarang sebising tanya
pada sunyi tebing?)
kemudian
kemudian doa-doa menyembahyangkan kalam
selepas hitam pualam
meyabit sesal di masjid langit
Al Malik
3/
jantungmu
jantungku
juga yang lainya
(akankah esok lusa segemerincing nada
pada puisi bening?)
kemudian
kemudian suara menata semesta
ketika tanah memapah
bahagia
bersama udara bernama
keluarga
4/
akhir bait meriwayat arti
ku siratkan nadi baris ini
menjadi puisi
untukmu, Emi Suyanti
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 2 Februari 2011]
Meragikan Waktu
seusai meragikan waktu
cair fermentasi itu kutuang ke gelas kecilku
malam tadi aku mabuk antara sunyi dan gemuruh
sunyi karena kebodohanku
gemuruh karena salahku
adakah kau tahu?
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 31 Januari 2011]
: yang kau sertakan di makamku esok hari
reretakan nisan
memuramkan hawa makam
setelah kabut-kabut pekat menyusup
ke tanah waktu
di kehampaan, petakku
reyot dikunyah rayap-rayap
di atas perebahan
bulan nyaris kehabisan stok pijar
sedang di ujung sana
kelakar-kelakar kelelawar
bergeming menyulut-nyulut
hening setelah kuning terbakar
baris-baris yang dulu kau tuturkan
sebelum kita tidur
kini menggema di derik para jangkrik
di sudut-sudut studio langit
pada detik-detik
: yang kau sertakan di makamku esok hari
jidatku berkerut menahan maksudmu yang sulit
ku terjemahkan
: pada riwayat cacing-cacing tanah
: pada hembusan paruku yang berdarah
: pada anyirku yang mengutuk para dewa
dan kita hanyalah noktah-noktah sejarah
tanpa mengerti alur cerita
darimana kita memulainya
dan dimana kisah ini akan binasa
kau dan aku masih bertanya-tanya
tentang pembenaran urat-urat senja
yang terkilir oleh bintang dan rembulan
olehmu-olehku
yang mempersembahkan oleh-oleh pertanyaan
kepada malam
tentang garismu dan garisku
yang tak lagi berdampingan
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 15 Januari 2011]
di tepi kolam renang
raut wajahmu mulai kabur
seiring tegur sapa kita menuai uzur
entah berapa masa
entah berapa senja dan gulita
telah bertukar era
untuk menjelmakan tetes embun di tanah
kau dan aku masih menjelajah
tanpa singgah
tanpa tahu untuk berapa lama
ruang ini pengap
di antara bertumpuk-tumpuk robekkan vokal
yang terpental oleh waktu
dan udara yang bersikeras mogok kerja di paruku
sajak-sajak hambarku kini melebar,
menjalar dan menebar rasa tawar
di antara keburaman arsiran
debu-debu trotoar
di tepi tenangnya air kolam
kau telah menyantap malam
kemudian sisakan ampasnya
menjadi pagi
pun tentang baris ini
mungkin adalah dusta
di atas tawa para dewa
yang memecah senyum kita
menjadi resah atau kesah
ketika katamu-kataku binasa
kau tahu?
percakapan-percakapan kita yang dulu
kini menjadi batu
lalu bulan memanteknya dengan paku candu
dan di buku itu
selaksa doa kau dan aku terbunuh
dan aku masih menunggumu untuk bertemu
di paruh gema perkelahian ombak dan karang
saat senja kembali menggradasi bentang horisonku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 13 Januari 2011]
Revolusi Senja
Ini adalah sebuah cerita
Tentang kediktatoran pikiran
Sebuah kebebasan terkekang oleh satu pola
Mengorbankan ujung asa dari sebuah impian
Pengikisan atas hak imajinasi klasik
Alunan musik mengusik berisik
Mendaratkan ritme-ritme harmoni
Di setiap jengkal keberadaan sebuah revolusi
Pagi menuju waktu petang
Mentari berlari menjauhi dimensi timur
Mereka yang berkata lantang
Hingga malam gulita ia tertidur
Sejak awal komando persatuan di galang
Untuk sebuah revolusi di saat senja datang
Kami, generasi dengan sejuta imajinasi
Imajinasi yang melahirkan bayang-bayang
Bayang-bayang tentang kebebasan
Tentang arti sebuah kedaulatan
Kami, generasi dengan bermacam-macam intuisi
Intuisi yang mengokohkan tiang-tiang
Tiang-tiang untuk dapat pengakuan
Pengakuan akan sebuah kenegaraan
Semua hitam, kelabu, putih, ataupun mega
Ada harganya
Raga dan nyawa demi kehormatan bangsa
Itulah taruhannya
Sampai berakhir perjuangan
Mengalahkan lelah yang tak berpegangan
Kompas yang terhempas
Ke dasar laut lalu kandas
Jasad diterpa tanah kubur
Di kemudian hari nama bangsa akan subur
Revolusi bukan untuk masuk dalam daftar album kenangan
Rasa kebanggaan mengalir tak berkesudahan
Seperti sinar mentari di pagi dan siang hari
Juga saat senja sebelum ia menutup diri
Lalu berbalut rembulan sebagai pengganti
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 22 Nopember 2009]
Sajak untuk para Rapper
sajak ala kadarnya ini ku coba pahatkan
untuk kalian yang telah kobarkan
semangat arti nyawaku di kehidupan
walau tak sebaik lirik yang kalian cipta
karena ku hanya menyampaikan apa yang kurasa
di dalam dada ini ada jiwa rima kalian yang bersemanyam
melekat erat, menemaniku di siang-malam
memang aku tak begitu mengerti
tentang musik yang kalian geluti
tapi sumpah, ku di sini sangat menikmati
semua nada dan rima yang kau beri
pun tak pernah bosan
dengan hentakan nyanyian
yang membuatku ikut bergoyang
seirama musik adrenalinku kian berdetak kencang
hati ini pun merasa senang
dan semua sedih lekas menghilang
terimakasih ku kepada semua MC sejati
yang ada di indonesia maupun di luar negeri
walau bahasa asing sedikit tak ku pahami
tapi bagiku itu bukan suatu hambatan
untuk menikmati musik yang kalian nyanyikan
secangkir kopi ditemani sedikit sarapan pagi
dengan mendengarkan lagu ini
ku merasa bagai di samudra jiwa muda
semangatku terpacu untuk menggapai cita
meski sedikit ngantuk
karena batuk yang menghujamiku semalaman suntuk
nyanyian kalian langsung meredam dan lelah pun semakin surut
kini ku semakin antusias dalam bekerja
siap menghadapi segala carut marutnya ibu kota
dan ku sapa kalian yang di sana :
apa kabar dirimu, hei sobat?
ku harap kalian semakin hebat
ini dariku : salam hangat tanpa sengat
untuk kalian, para rapper sejagat
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jkt, 16/12/2010]
Malam Tadah Aksara
Bintang dan bulan menjadi cawan
Dalam perjamuan malam
Komet-komet mengiris urat planet rubiyyat
Sedang asteroid memburu cinta para pujangga
Aku terpaku pada lelah
Lelah untuk terjaga
Aku sudah coba istirahatkan raga
Tapi bunyi tarian aksara di otakku masih menggema
Keheningan malam setia memberi ketenangan
Untuk menemukan jawab atas pertanyaan
Kenapa sajak-sajak tak jua berhenti berdesing?
Padahal rintik-rintik bait sudah banyak berserakan di langit
Sedikit mengganggu pemandangan Tuhan, mungkin
Karena pasca-peperangan batin kemarin
Malam semakin mendekam
Batu-batu pualam mendonasikan halaman
Jangkrik-jangkrik adalah musisi alam sejati
Yang mengisi sepi romansa kesenian bumi
Aku masih tak berkutik pada kesenjangan angkasa
Ketika matahari menjauhkan hariku dari mata
Melihat cahaya bertamasya ke segala arah jutaan tahun lamanya
Dan bumi salah satu tempat singgahnya
Ia berdomisili di timur saat pagi
Lalu bertempat di barat ia rehatkan jasad
Aku di sini, kini beralih profesi jadi petani
Menadah aksara di pekatnya malam
Bertepi di pinggir sunyi
Menjajaki nurani mencari jati diri
Ku tengok ke hati menatap ruhani
Yang masih melekat erat pada jasmani
Masihkah esok menghantarkanku pada pagi
Dengan secangkir kopi dan setangkup roti?
Untuk berdiplomasi wakili bumi pada bimasakti
Di dalam koferensi antargalaksi, menyangkut pemaknaan kehidupan
Sebelum riwayat sejarah menyuguhkan goresan nama pada nisan
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 28 Nopember 2010]
Doa Gunung Kepada Tuhan
Tuhan, katamu Kau maha melihat
Tapi apa?.... kau biarkan aku sekarat
Hutan yang dulu menjadi selimut tidurku kini lenyap
Dibabat oleh ketamakkan manusia laknat
Bagaimana aku jalani malam yang dingin dan pekat
Aku menggigil. Sangat menggigil Tuhan
Tuhan, katamu Kau maha mendengar
Tapi apa?... rintihan pesisir sebegitu menggelegar
saat para bakau sebagai pacarnya
dihajar oleh keserakahan bos-bos bergelar
dimana Kau, ya Tuhan yang Maha besar
Ah, Tuhan.
Aku tahu kami adalah alam
dan ditugaskan olehMu menghidupi manusia
Tapi apakah Kau tak peduli pada keserasian kami
Sedikit saja Tuhan
Agar mereka sadar, bahwa kami pun punya nyawa
Kami punya emosi
Jadi, maafkan aku, ya Tuhan
Apa bila aku marah kepada hambaMu
Yang kau sebut dengan nama "manusia"
Satu tanya kami padaMu, ya Tuhan
Adakah hak asasi alam?
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 22 Nopember 2010]
Mayday!
Mayday! Aku lihat kucing itu menggonggong
Tapi sayangnya taringnya ompong
Aku rasa dia harus dikarantina
Atau mungkin lebih baik dikebumikan saja
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 19 Oktober 2010]
Aku Ingin Jati Diriku Kembali
Kemana hendak kaki melangkah, ketika
sinar harapan pudar ditelan gelombang-gelombang kehidupan, sirna
aku letih,
Ketika bias mentari menyinari sisa-sisa air di balik celah awan,
Kibaskan warna indah dalam wujud prespektif bianglala
Aku masih sedih,
Dalam jejak langkah pencarian jati diri yang hilang, terseret
Oleh gemerlap dunia yang berkelimpahan,
Aku jenuh,
Kapan semua akan berakhir?
Mungkinkah saat izroil bertamu, untuk
membawa pergi nyawa yang telah lama tertanam di raga, dengan
jiwa yang melayang-layang ke angkasa, sedang raga berteduh di balik tanah pusara
Apa dengan begitu akan berakhir?
Oh Tuhan,
Tolong dengarkan rintihan daku
Hamba ingin berkasmaran denganMu
Agar tak akan kegelisahan yang telah lama mendera batin, mengoyak
semua kebisuan hati karena jauh dariMu
Lihatlah makhluk kotor dan hina-dina ini, untuk
bersujud seraya memohon pertolonganMu
Hadapkanlah daku pada jati diri yang telah kabur,
Membawa semua memori dalam dadaku
Aku malu, untuk
Keluar dari sarang dalam pengasingan pada dunia luar
Karena aku bukanlah aku, dan
Ini bukanlah diriku, aku ingin dia kembali
Hingga dapat ku nikmati bias mentari, serta
indahnya panorama alam ciptaanMu dengan seutuhnya, yang
dapat meningkatkan rasa syukur akan pemberianMu
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 4 Juli 2009]
Terangi Kami
Cukup lama kami bernaung
Dalam pekat cahaya
Baik siang maupun malam
Tak ada sinar memantul
Sekedar bersapa dengan dinding bersinggung
Terangi kami walau seberkas bias rona
Meski itu berkejauhan alam
Epidermis kami telah lama suram
Lebih lagi kalbu yang Engkau tahu betul
Berilah kami jalan sekilas bersenandung
Biarkan namaMu menemani hari
Layak mencari ruang untuk terbang pada si burung
Mulai keluar mentari berdiri
Sampai akhirnya sisi barat berujung
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 26 Nopember 2009]
Ku Ingin
Ku ingin suatu saat nanti
Kepingan emas tak lagi berharga
Ku ingin bila mati
Mutiara hanyalah batu biasa
Tapi,
Ku ingin dikau selalu menemani
Jika tiba masanya,
Ku ingin laut merah jadi kuning
Laut hitam menjadi hijau
Sedang menjadi dangkal pada laut mati
Tapi,
Ku ingin diri ini masih kau kenang
Kalau sudah waktunya
Saat samudera mengering,
Daratan dibanjiri air,
Atmosfer menghilang,
Bumi kehilangan gravitasi dan berhenti berotasi
Hingga komet berjatuhan menimpa bumi,
Dan matahari kehilangan cahayanya,
Tapi,
Ku ingin dikau tahu
Dirimu telah terkunci dalam lemari hatiku
Untuk selamanya, abadi berada di sana
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 25 Juni 2009]
Terimakasih Guru
Melangkah kau tertatih
Adakah kau letih?
Semangat terus terlatih
Pada anak didik terkasih
Gerak langkah tak gentar
Suara lantang mengajar
Ilmu bintang bagai mercusuar
Depan murid, kursi bersandar
Suara kami padamu, guru
Nakhoda pembawa ilmu
Hangat kau sapa telingaku
Ayo, baca bukumu!
Buat semua murid tahu,
Tentang pengetahuan terbaru
Berujar kau dalam amarah
Saat sempat kami tak buat tugas
Ku tahu semua karena amanah
Hingga kau bersifat tegas
Rindu kami padamu, guru
Penuntun pengembaraan duniaku
Pemberi semangat kala ragu
Tetap kau masih bersama muridmu
Guru,
Nyala api berkobar dalam dadaku
Getar cinta tulus darimu
Bagi kami anak didikmu
Laksana kau sungai
Dirimu tempat bermuara ilmu
Hilir maupun hulu
Lautanlah tujuanmu
Kamilah lautan itu
Guru,
Gelombang ilmumu
Pasang surut mu
Warna warni jiwa mu
Telah tertanam di ragaku
Guru,
Aku rindu
Permadani belapis emas
Ketegaran hati beselimut baja
Nada suara layak kapas
Kamilah anak didikmu
Terimakasih ku sampaikan
Bersama bait ku runtunkan
Prestasi telah ku dapatkan
Kasihmu terus tercurahkan
Terimakasih guru
Dunia telah ku tahu
Berkat dirimu guru
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 18 Juni 2009]
Balada Jakarta
Selalu ada tangan jahil
Meraba pada tas
Barang anda terambil
Dalam bus patas
Pencopet sedang asyik
Mencelah tas penumpang
Supir kondektur tak mengusik
Kejahatan terjadi dengan gampang
Ular memang pasti bersisik
Masuk bui bermainlah uang
Dasar Copet
Aku tahu kau kepepet
Dosa pun kau serempet
Uang tak punya dapur macet
Penumpang gerbang
Punya uang marilah menyumbang
Panti bergerbang palang
Sudah usang
Mirip kandang musang
Aku sudah garang
Masih saja kau berhati gersang
Tengoklah sebelum pulang
Di panti sudah banyak belalang
Setiap hari banyak hidung belang
Lalu lalang waktu berselang
Terkutuklah copet
Tingkahmu bagai kampret
Cari uang gasak dompet
Dasar copet
Duit untuk beli bupet
Raib sudah kejepret
Salah apa sampai dicopet
Ada pameran mau motret
Dasar hari apes
Tidak makan pepes
Malah jadi tipes
Para penumpang
Waspada pada kujang
Kapan saja siap menerjang
Kalau waktu terbuang
Anda pun baru bilang
Dompet anda telah hilang
Copet kurang ajar
Tuli saat ustad berujar
Ikhlas hatinya mau mengajar
Pergi saja beliau kau biar
Ada pelajar
Bendera kau berkibar
Sekelompok berumbar
Dalam bus dekat totoar
Aksi mulaimu menjalar
Memang copet tak mau belajar
Semakin lama semakin sulit dikejar
Sampai kapan kau bisa ditatar
Dunia yang serba datar
Banyak orang telah menghajar
Muka hancur tubuh mememar
Sedikit pun kau tak gentar
Pada barisan berbanjar
Penumpang bus terhormat
Kalangan elit SD pun tak tamat
Hati-hati pada bus bercamat
Lengah diri singkat
Uangmu minggat
Penumpang bus masih tertambat
Enak rokok mulut tersumbat
Meski bus penuh dan padat
Tak peduli sebelah terciprat
Ada balita tetap tak mencuat
Buta hati kata yang tepat
Untuk penumpang bus bangsat
Wahai copet kian mengganas
Bus patas tetap panas
Ada polisi tetap beringas
Kepergok cepat ambil tuas
Tinggalkan bukti cepat bergegas
Taubat wahai copet
Sadarlah penumpang bangsat
Kalian dapat nikmat
Yang lain dibiarkan mangkat
Usailah kerja berdebat
Panggung politik semakin sengat
Sibukkan diri urus pangkat
Peduli apa dengan orang berangkat
Dengan lesu atau pun semangat
Yang penting masih sempat
Semoga naik secara tersirat
Kaum lemah menjadi tempat
Bagi kalian tak tahu adat
Bisanya cuma membabat
Balada jakarta
Kota menjadi hina
Disesaki manusia tak berguna
Tak usah bertanya padanya
Begitulah jakarta adanya
Sampai akhir dunia
Akan sama juga
Jakarta tetap kota hina
Ruang hampa zinah manusia
Hidup bergelimpangan dosa
Sama saja dengan neraka
Hanya beda masih punya raga
Jakarta memang membingungkan
Mati tak mau hidup pun enggan
Wakil rakyat menjerat
Kampanye secara tersurat
Miskin merakyat
Memang sudah jadi hikayat
Berkata manis cuma bualan
Niscaya engkau dilupakan
Balada jakarta dipengasingan
Lebih baik dari jalan persimpangan
Jauh diri tak berpandangan
Jakarta pahit dalam kenangan
Mayat hidup bergentayangan
Berpacaran tetap di pekuburan
Kabar angin tersingkirkan
Sebab cinta telah berpegangan
Begitulah kata cenayangan
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 17 Juni 2009]
Layang-layang sajak
: kulayangkan namamu ke awan

