Balada Jakarta
Selalu ada tangan jahil
Meraba pada tas
Barang anda terambil
Dalam bus patas
Pencopet sedang asyik
Mencelah tas penumpang
Supir kondektur tak mengusik
Kejahatan terjadi dengan gampang
Ular memang pasti bersisik
Masuk bui bermainlah uang
Dasar Copet
Aku tahu kau kepepet
Dosa pun kau serempet
Uang tak punya dapur macet
Penumpang gerbang
Punya uang marilah menyumbang
Panti bergerbang palang
Sudah usang
Mirip kandang musang
Aku sudah garang
Masih saja kau berhati gersang
Tengoklah sebelum pulang
Di panti sudah banyak belalang
Setiap hari banyak hidung belang
Lalu lalang waktu berselang
Terkutuklah copet
Tingkahmu bagai kampret
Cari uang gasak dompet
Dasar copet
Duit untuk beli bupet
Raib sudah kejepret
Salah apa sampai dicopet
Ada pameran mau motret
Dasar hari apes
Tidak makan pepes
Malah jadi tipes
Para penumpang
Waspada pada kujang
Kapan saja siap menerjang
Kalau waktu terbuang
Anda pun baru bilang
Dompet anda telah hilang
Copet kurang ajar
Tuli saat ustad berujar
Ikhlas hatinya mau mengajar
Pergi saja beliau kau biar
Ada pelajar
Bendera kau berkibar
Sekelompok berumbar
Dalam bus dekat totoar
Aksi mulaimu menjalar
Memang copet tak mau belajar
Semakin lama semakin sulit dikejar
Sampai kapan kau bisa ditatar
Dunia yang serba datar
Banyak orang telah menghajar
Muka hancur tubuh mememar
Sedikit pun kau tak gentar
Pada barisan berbanjar
Penumpang bus terhormat
Kalangan elit SD pun tak tamat
Hati-hati pada bus bercamat
Lengah diri singkat
Uangmu minggat
Penumpang bus masih tertambat
Enak rokok mulut tersumbat
Meski bus penuh dan padat
Tak peduli sebelah terciprat
Ada balita tetap tak mencuat
Buta hati kata yang tepat
Untuk penumpang bus bangsat
Wahai copet kian mengganas
Bus patas tetap panas
Ada polisi tetap beringas
Kepergok cepat ambil tuas
Tinggalkan bukti cepat bergegas
Taubat wahai copet
Sadarlah penumpang bangsat
Kalian dapat nikmat
Yang lain dibiarkan mangkat
Usailah kerja berdebat
Panggung politik semakin sengat
Sibukkan diri urus pangkat
Peduli apa dengan orang berangkat
Dengan lesu atau pun semangat
Yang penting masih sempat
Semoga naik secara tersirat
Kaum lemah menjadi tempat
Bagi kalian tak tahu adat
Bisanya cuma membabat
Balada jakarta
Kota menjadi hina
Disesaki manusia tak berguna
Tak usah bertanya padanya
Begitulah jakarta adanya
Sampai akhir dunia
Akan sama juga
Jakarta tetap kota hina
Ruang hampa zinah manusia
Hidup bergelimpangan dosa
Sama saja dengan neraka
Hanya beda masih punya raga
Jakarta memang membingungkan
Mati tak mau hidup pun enggan
Wakil rakyat menjerat
Kampanye secara tersurat
Miskin merakyat
Memang sudah jadi hikayat
Berkata manis cuma bualan
Niscaya engkau dilupakan
Balada jakarta dipengasingan
Lebih baik dari jalan persimpangan
Jauh diri tak berpandangan
Jakarta pahit dalam kenangan
Mayat hidup bergentayangan
Berpacaran tetap di pekuburan
Kabar angin tersingkirkan
Sebab cinta telah berpegangan
Begitulah kata cenayangan
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 17 Juni 2009]
By jiwang muhtadin
Category:
balada,
puisiku
0
comments


0 comments:
Post a Comment