pada detik-detik
: yang kau sertakan di makamku esok hari
reretakan nisan
memuramkan hawa makam
setelah kabut-kabut pekat menyusup
ke tanah waktu
di kehampaan, petakku
reyot dikunyah rayap-rayap
di atas perebahan
bulan nyaris kehabisan stok pijar
sedang di ujung sana
kelakar-kelakar kelelawar
bergeming menyulut-nyulut
hening setelah kuning terbakar
baris-baris yang dulu kau tuturkan
sebelum kita tidur
kini menggema di derik para jangkrik
di sudut-sudut studio langit
pada detik-detik
: yang kau sertakan di makamku esok hari
jidatku berkerut menahan maksudmu yang sulit
ku terjemahkan
: pada riwayat cacing-cacing tanah
: pada hembusan paruku yang berdarah
: pada anyirku yang mengutuk para dewa
dan kita hanyalah noktah-noktah sejarah
tanpa mengerti alur cerita
darimana kita memulainya
dan dimana kisah ini akan binasa
kau dan aku masih bertanya-tanya
tentang pembenaran urat-urat senja
yang terkilir oleh bintang dan rembulan
olehmu-olehku
yang mempersembahkan oleh-oleh pertanyaan
kepada malam
tentang garismu dan garisku
yang tak lagi berdampingan
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 15 Januari 2011]
: yang kau sertakan di makamku esok hari
reretakan nisan
memuramkan hawa makam
setelah kabut-kabut pekat menyusup
ke tanah waktu
di kehampaan, petakku
reyot dikunyah rayap-rayap
di atas perebahan
bulan nyaris kehabisan stok pijar
sedang di ujung sana
kelakar-kelakar kelelawar
bergeming menyulut-nyulut
hening setelah kuning terbakar
baris-baris yang dulu kau tuturkan
sebelum kita tidur
kini menggema di derik para jangkrik
di sudut-sudut studio langit
pada detik-detik
: yang kau sertakan di makamku esok hari
jidatku berkerut menahan maksudmu yang sulit
ku terjemahkan
: pada riwayat cacing-cacing tanah
: pada hembusan paruku yang berdarah
: pada anyirku yang mengutuk para dewa
dan kita hanyalah noktah-noktah sejarah
tanpa mengerti alur cerita
darimana kita memulainya
dan dimana kisah ini akan binasa
kau dan aku masih bertanya-tanya
tentang pembenaran urat-urat senja
yang terkilir oleh bintang dan rembulan
olehmu-olehku
yang mempersembahkan oleh-oleh pertanyaan
kepada malam
tentang garismu dan garisku
yang tak lagi berdampingan
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 15 Januari 2011]


0 comments:
Post a Comment