Malam Tadah Aksara

Malam Tadah Aksara

Bintang dan bulan menjadi cawan
Dalam perjamuan malam
Komet-komet mengiris urat planet rubiyyat
Sedang asteroid memburu cinta para pujangga

Aku terpaku pada lelah
Lelah untuk terjaga
Aku sudah coba istirahatkan raga
Tapi bunyi tarian aksara di otakku masih menggema

Keheningan malam setia memberi ketenangan
Untuk menemukan jawab atas pertanyaan
Kenapa sajak-sajak tak jua berhenti berdesing?
Padahal rintik-rintik bait sudah banyak berserakan di langit
Sedikit mengganggu pemandangan Tuhan, mungkin
Karena pasca-peperangan batin kemarin

Malam semakin mendekam
Batu-batu pualam mendonasikan halaman
Jangkrik-jangkrik adalah musisi alam sejati
Yang mengisi sepi romansa kesenian bumi

Aku masih tak berkutik pada kesenjangan angkasa
Ketika matahari menjauhkan hariku dari mata
Melihat cahaya bertamasya ke segala arah jutaan tahun lamanya
Dan bumi salah satu tempat singgahnya
Ia berdomisili di timur saat pagi
Lalu bertempat di barat ia rehatkan jasad

Aku di sini, kini beralih profesi jadi petani
Menadah aksara di pekatnya malam
Bertepi di pinggir sunyi
Menjajaki nurani mencari jati diri
Ku tengok ke hati menatap ruhani
Yang masih melekat erat pada jasmani

Masihkah esok menghantarkanku pada pagi
Dengan secangkir kopi dan setangkup roti?
Untuk berdiplomasi wakili bumi pada bimasakti
Di dalam koferensi antargalaksi, menyangkut pemaknaan kehidupan
Sebelum riwayat sejarah menyuguhkan goresan nama pada nisan

[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 28 Nopember 2010]

Category: 0 comments

0 comments:

Post a Comment