Tanya Untuk Tuhan
: Cerita tentang Hujan
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 24 Pebruari.2011 : 17.15]
: Cerita tentang Hujan
sore itu aku tergesa-gesa karena hujan. aku tidak membawa payung. memang sengaja karena pada saat aku berangkat mengunjungimu, air yang berjatuh-jatuhan itu masih meminang langit di persandingan awan. jadi kupikir tak perlulah membawa payung, merepotkan saja. ternyata aku salah duga. ketika aku ingin pulang, entah siapa yang melerai keduanya. sampai-sampai membuat gagal acara pertuangan mereka. air itu pun lantas bunuh diri dengan cara terjun bebas dari atas sana. ya, hujan itulah yang kusaksikan sekaligus mempersulit langkahku kembali ke rumah. namun nasib baik masih memihakku. untunglah ada seorang bocah jalanan yang menawarkan jasa untuk kusewa payung miliknya. tanpa pikir panjang aku pun memakai jasanya karena suatu kebetulan sekali saat itu aku sedang ditunggu kerjaan yang banyak dan harus segera kuselesaikan. tentu aku tak mau membuang-buang semenit pun untuk sekedar menunggu hujan reda. yang pasti bukan karena aku malas menunggu gema isak tangis sayup itu meredup di sekeliling tubuhku. cerita ini, aku lupa tanggal berapa kejadiannya, tapi seingatku saat itu bukan hari ulang tahunmu.
setelah sekian lama, entah kenapa aku baru tersadar akan sesuatu yang mencoba menggodaku untuk mendalami hari-harimu di sana. aku ingin bertanya, andai kisahku ini terbalik dan menimpamu, bagaimana dengamu, Tuhan?. siapa yang akan menjajakan payung sewaan untukmu kalau di tempatmu sedang hujan?. aku bertanya serius, pertanyaan ini benar-benar menggelitik implus sarafku sore ini. apakah di kediamanmu ada musim penghujan juga?. atau kemarau, panas, dingin, semi atau gugur, mungkin?. semisalnya ada, musim apa yang sedang berlaku di sana, Tuhan?. Sebab aku tengah mencari matamusim yang mengalirkan cuaca tak menentu belakangan ini, tepatnya di bumi tempat kuberpijak saat ini. lebih tepatnya lagi di kota Jakarta.
mohon dijawab Tuhan. apa adanya sajalah sebab ini bukan soal ujian. tak ada benar atau salah dalam jawaban. pun tak ada penilaian. tapi jangan kau beralasan kalau kau tidak pernah beranjak dari tempat dudukmu, Tuhan. Memangnya kau tidak sibuk?, tidak bosan?. setahuku di sini yang mengurusi urusan dunia saja sibuknya minta ampun. apa lagi dirimu. mengurusi seluruh alam. dunia-akhirat. tidakkah itu membuatmu uring-uringan?. ya, mungkin agar kau tidak frustasi dan sekarat kau mempekerjakan malaikat yang sangat banyak, kan?. meskipun demikian, aku tetap heran, pastilah sekali waktu akhirnya kau ingin jalan-jalan juga, kan?. semacam liburan begitu. melemaskan otot-ototmu yang keram atau kaki yang kesemutan. adakah kakimu bisa kesemutan, Tuhan?
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 24 Pebruari.2011 : 17.15]


0 comments:
Post a Comment