untuk wanita yang berdiri
di tepi kolam renang
raut wajahmu mulai kabur
seiring tegur sapa kita menuai uzur
entah berapa masa
entah berapa senja dan gulita
telah bertukar era
untuk menjelmakan tetes embun di tanah
kau dan aku masih menjelajah
tanpa singgah
tanpa tahu untuk berapa lama
ruang ini pengap
di antara bertumpuk-tumpuk robekkan vokal
yang terpental oleh waktu
dan udara yang bersikeras mogok kerja di paruku
sajak-sajak hambarku kini melebar,
menjalar dan menebar rasa tawar
di antara keburaman arsiran
debu-debu trotoar
di tepi tenangnya air kolam
kau telah menyantap malam
kemudian sisakan ampasnya
menjadi pagi
pun tentang baris ini
mungkin adalah dusta
di atas tawa para dewa
yang memecah senyum kita
menjadi resah atau kesah
ketika katamu-kataku binasa
kau tahu?
percakapan-percakapan kita yang dulu
kini menjadi batu
lalu bulan memanteknya dengan paku candu
dan di buku itu
selaksa doa kau dan aku terbunuh
dan aku masih menunggumu untuk bertemu
di paruh gema perkelahian ombak dan karang
saat senja kembali menggradasi bentang horisonku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 13 Januari 2011]
di tepi kolam renang
raut wajahmu mulai kabur
seiring tegur sapa kita menuai uzur
entah berapa masa
entah berapa senja dan gulita
telah bertukar era
untuk menjelmakan tetes embun di tanah
kau dan aku masih menjelajah
tanpa singgah
tanpa tahu untuk berapa lama
ruang ini pengap
di antara bertumpuk-tumpuk robekkan vokal
yang terpental oleh waktu
dan udara yang bersikeras mogok kerja di paruku
sajak-sajak hambarku kini melebar,
menjalar dan menebar rasa tawar
di antara keburaman arsiran
debu-debu trotoar
di tepi tenangnya air kolam
kau telah menyantap malam
kemudian sisakan ampasnya
menjadi pagi
pun tentang baris ini
mungkin adalah dusta
di atas tawa para dewa
yang memecah senyum kita
menjadi resah atau kesah
ketika katamu-kataku binasa
kau tahu?
percakapan-percakapan kita yang dulu
kini menjadi batu
lalu bulan memanteknya dengan paku candu
dan di buku itu
selaksa doa kau dan aku terbunuh
dan aku masih menunggumu untuk bertemu
di paruh gema perkelahian ombak dan karang
saat senja kembali menggradasi bentang horisonku
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 13 Januari 2011]


0 comments:
Post a Comment