tak perlu tanda diantara kita
: kepada Ibuku, Rusdiana Hormansyah
bukankah angkasa tak kita
tahu batas ujungnya di atas sana?
planet-planet, bulan, bintang, komet-komet
dan segala orbit hanyalah sebuah pamflet
di sederet siluet
(jika masa menyajakkan samudra
aku kira,
tak perlu ada tanda diantara kita, bu
sebab tanda hanyalah sebuah penanda
bukan sesuatu yang berharaga tanpa mengingatnya
tanpa kau dan aku di sana
-- cukuplah namamu dan namaku saja yang menjelajah
mengkoordinat arah bernama sejarah
di layar lazuardi
yang membayi puisi
atau setidaknya dekmu lah tempatku mengadu
hanya itu yang kutahu, bu)
bukan malam atau siang
yang meramal cuaca kita
tetang segala tanda memakna sebuah nama
tetang sesiapa menanam bunga pada semesta
tetang semua kenangan menyisihkan sebuah terang
biarlah api itu padam
kupaslah segala buram
bahkan, murammu sudah berpenghangat malam, kan?
sekarang, hapuslah resapan pahit catatan
hapuslah, hapuslah,
hapus cerita kelam
dengan hapusan narasi yang sedang berjalan
tak usah kau tunggu kematian
sebab nanti ia bisa mengaramkanmu di lautan
kecuali menyisakan namamu yang tertera di karang
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 12 Pebruari 2011]
: kepada Ibuku, Rusdiana Hormansyah
bukankah angkasa tak kita
tahu batas ujungnya di atas sana?
planet-planet, bulan, bintang, komet-komet
dan segala orbit hanyalah sebuah pamflet
di sederet siluet
(jika masa menyajakkan samudra
aku kira,
tak perlu ada tanda diantara kita, bu
sebab tanda hanyalah sebuah penanda
bukan sesuatu yang berharaga tanpa mengingatnya
tanpa kau dan aku di sana
-- cukuplah namamu dan namaku saja yang menjelajah
mengkoordinat arah bernama sejarah
di layar lazuardi
yang membayi puisi
atau setidaknya dekmu lah tempatku mengadu
hanya itu yang kutahu, bu)
bukan malam atau siang
yang meramal cuaca kita
tetang segala tanda memakna sebuah nama
tetang sesiapa menanam bunga pada semesta
tetang semua kenangan menyisihkan sebuah terang
biarlah api itu padam
kupaslah segala buram
bahkan, murammu sudah berpenghangat malam, kan?
sekarang, hapuslah resapan pahit catatan
hapuslah, hapuslah,
hapus cerita kelam
dengan hapusan narasi yang sedang berjalan
tak usah kau tunggu kematian
sebab nanti ia bisa mengaramkanmu di lautan
kecuali menyisakan namamu yang tertera di karang
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 12 Pebruari 2011]


0 comments:
Post a Comment