Layang-layang sajak : kulayangkan namamu ke awan

Layang-layang sajak
: kulayangkan namamu ke awan

(gerimis dan guguran kamboja yang selalu kau suka, sebenarnya hampir mengurungkan niatku untuk menuliskan ini padamu)

berberapa waktu lalu. kupilah koloni kata yang bermukim di buku-buku bambu. kumaksudkan itu untuk berkreasi di fantasi rindu jari-jemarimu yang mungkin saat ini sedang dibanjiri bingkisan tahunan atau setidaknya beberapa ucapan doa telah dialamatkan kepadamu.

berbatang-batang huruf kutebang. kuperhalus untuk kujadikan layang-layang sajak. kukalkulasikan ukurannya dengan logika dan perasaan agar semuanya dapat bergerak dengan layak. ku isyaratkan benang-benang sepasi erat-erat di antarkatanya guna mempertahankan setiap sisi aksara dan berharap dapat bertahan bila diterpa angin kencang.

layang-layang sajak ini, bukan kertas yang kupakai sebagai layar untuk menerbangkannya di riuh kosa kata langit. akan tetapi, yang kurentangkan di tulang-tulang kerangka sajak ini adalah lembaran plastik bait.

kau tahu sebabnya, kan?

sejak kutahu tentang gerimis dan kamboja yang telah kau ceritakan padaku waktu itu. kupikir plastik baitlah bahan yang paling pas untuk dirakit pada kerangka layang-layang ini. supaya kelak, kau bisa memainkannya sesuka hatimu. pada saat gerimis. pada saat guguran kamboja mulai meramaikan area taman. tanpa perlu mengkhawatirkannya akan robek ditembus rintik air. begitu pula kenur rima yang terikat di tali kama ke gulungan itu. tak kugunakan benang gelasan karena ia  mudah luntur dan mungkin saja nanti malah melukai tanganmu.

Layang-layang sajak
: kulayangkan namamu ke awan

pandanglah keluar (jendela) kamarmu!.

aku ingin kita menerbangkannya bersama. tentu saja pada saat gerimis tiba berserta kamboja di taman sana sedang berguguran. ayo, kita mainkan sepuasnya!. sampai bajumu-bajuku basah ditetesi rintik-rintik bait. sampai tawamu-tawaku membahanakan masa kecil yang kita lirik berdua di gerimisnya guguran kamboja.

(demi perpanjangan rekah senyum cakrawala pada bibirmu. kulayangkan layang-layang sajak untuk membaca namamu pada hujan. untuk mendikte merah pipimu pada pelangi. untuk keberadaanku di sini, menghadiahkan layang-layang sajak ini padamu. kuharap kau menjelmakan arti pada baris-baris ini).

[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 16 Januari 2011]

0 comments:

Post a Comment