Puisi Mini

MASA

SERIBU. dan seribu hari lagi kita sama di titik simpang. Aku siur, sedang kau menyadur waktu yang agak linglung. saatnya nanti entah kau, aku atau mimpi yang renta lebih dulu.

ALMENAK
. Setiap angka menemui runtuhnya. Aku menyebutnya pergantian hari yang basi. Tak ada magicom untuk hari kemarin, bukan?.

ANTARA BULAN dan MATAHARI. Dalam sangsi pertanyaan, aku membayang kau sebagai jawaban.

BILA NANTI. Aku tak menghitung lamanya, aku hanya menimbang bagian akhirnya.

POROS. Garis edarku menyesuaikan rumahmu.

[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 10.11.2011]

0 comments:

Post a Comment