baris mimpi sisa pagi
1/
tinggallah riak
sisa dari suaramu yang parau
dan lampau
yang buram kuterjemah
sebagai harokah binar fajar
pemecah
embun dimataku
2/
selaksa doa
yang menyelinap
ke bilik jantungmu
namaku senyap
melayat
denyut denyutnya
ada, tiada
kau dan aku
serupa butir debu
yang berdzikir
di pulau bisu
3/
tinggallah tanak gelap
ampas dari matamu yang redup
melingkup
batasbatas sujud
berserak remah kata
yang basah
dari mimpi paling sepi
ada, tiada
kau dan aku
tinggallah nama
tak berwajah
merangkum sunyi
di baris ini
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 13 September 2011]
1/
tinggallah riak
sisa dari suaramu yang parau
dan lampau
yang buram kuterjemah
sebagai harokah binar fajar
pemecah
embun dimataku
2/
selaksa doa
yang menyelinap
ke bilik jantungmu
namaku senyap
melayat
denyut denyutnya
ada, tiada
kau dan aku
serupa butir debu
yang berdzikir
di pulau bisu
3/
tinggallah tanak gelap
ampas dari matamu yang redup
melingkup
batasbatas sujud
berserak remah kata
yang basah
dari mimpi paling sepi
ada, tiada
kau dan aku
tinggallah nama
tak berwajah
merangkum sunyi
di baris ini
[copyright by Jiwang Muhtadin : Jakarta, 13 September 2011]


1 comments:
halo mas jiwang, wah...puisi2nya menyentuh jiwa deh...
salam kenal dari seorang Kompasianers juga..
kalo sempet mampir2 ya di blogku:
www.tinutuanskaledo.wordpress.com
www.kompasiana.com/hilda_in_palu hehehe...
aku juga mencintai sastra...amat, sangat deh :)
Post a Comment